Meditasi dan Pikiran Monyet
Meditasi dan Pikiran Monyet? Beberapa orang merasa istilah “monkey mind” atau “pikiran monyet” itu mengganggu, merendahkan, bahkan menghina. Sayang sekali kalau kita malah sibuk tersinggung, karena esensinya jadi hilang, ego ikut campur, dan kita langsung memasang pertahanan diri. Tapi, bukankah manusia disebut sebagai “raja para primata”?
Pertama kali aku mendengar istilah “monkey mind” dalam konteks meditasi, aku langsung kepikiran Swayambhunath Stupa di Kathmandu, Nepal. Tempat ini sering disebut “kuil monyet,” dan entah kenapa, bayangan monyet-monyet yang butuh pengawasan dalam lingkungan manusia membuatku ingin tertawa.
Monyet bisa jadi gangguan kalau dibiarkan berkeliaran tanpa arahan, sama seperti pikiran kita yang nggak terlatih. Pikiran bisa melompat dari satu hal ke hal lain tanpa menyelesaikan apa pun. Jadi, daripada tersinggung dengan istilah ini, coba lihat sisi lucunya.
Kalau kita bisa menikmati hidup dan nggak terlalu serius menanggapi segala hal, kita bakal sadar kalau hidup monyet itu sebenarnya nggak seburuk itu. Kenyataannya, manusia terlalu banyak menghabiskan waktu untuk membela diri, khawatir, jaga gengsi, berusaha mempengaruhi orang lain, merasa takut, dan malu. Akibatnya, kita sering lupa menikmati hidup sepenuhnya.
Padahal, kita ini bukan pikiran kita sendiri. Kita memang bertanggung jawab atas tindakan kita, tapi sebelum kita bertindak, ada banyak proses di dalam pikiran. Misalnya, saat berpikir, kita menciptakan gambaran dan berbagai pilihan dalam kepala. Dari gambaran itu, kita bisa merasakan sesuatu, biasanya di sekitar dada atau hati.
Entah itu perasaan baik atau buruk, kita bisa memprosesnya menjadi tindakan atau hanya membiarkannya lewat seperti angin. Jadi, kalau kamu tiba-tiba kepikiran sesuatu yang buruk, lalu pikiran itu berlalu begitu saja, apa harus merasa bersalah? Sebenarnya, hati atau gut feeling kita sudah punya sistem alami untuk menilai mana yang benar dan salah.
Manusia punya kemampuan untuk mempengaruhi dunia dan menciptakan realitas yang berbeda. Tapi, membedakan mana yang sakral dan mana yang jahat sudah jadi tantangan sejak ribuan tahun lalu. Ketika kita mulai terputus dari diri sendiri, alam, dan Tuhan, kita jadi makin bingung.
Untungnya ada meditasi. Dengan meditasi, kita bisa mengendalikan kekuatan pikiran, menenangkan diri, dan fokus pada satu hal dalam satu waktu. Kalau kita meluangkan waktu untuk meditasi setiap hari, keputusan yang kita buat bisa lebih jernih dan terarah. Pada akhirnya, kita mungkin akan melihat monyet dengan lebih banyak rasa hormat, apresiasi, dan tentu saja, sedikit humor.