Sahasrar Chakra dan Brahmarandhra – Pusat Kekuatan Ilahi
Sahasrar Chakra dan Brahmarandhra – Pusat Kekuatan Ilahi – Tubuh manusia (mikrokosmos) dikatakan sebagai miniatur dari alam semesta (makrokosmos). Seperti halnya seluruh pohon besar tersembunyi dalam biji kecil, begitu pula tubuh manusia sudah terbentuk dalam satu sperma kecil. Cara kerja tata surya, di mana planet-planet bergerak karena gaya tarik-menarik, juga bisa dilihat dalam lingkup kecil di dalam atom, seperti elektron dan neutron. Dengan kata lain, seluruh alam semesta tercermin dalam tubuh manusia. Segala sesuatu yang ada di alam semesta, baik yang terlihat maupun yang tidak, juga ada dalam tubuh manusia. Bahkan, segala karakteristik yang ada di bumi juga dapat ditemukan dalam diri manusia.
Semua energi, keunikan, dan keistimewaan bumi berpusat pada kutub utara dan selatan. Dari sanalah semua pergerakan dan aktivitas bumi dikendalikan. Akibatnya, bumi menjadi bola aktif dan tempat bermain bagi semua makhluk hidup. Jika kutub utara dan selatan kehilangan keseimbangan atau mengalami perubahan, maka wajah bumi akan berubah drastis. Dikatakan bahwa bahkan jika ada pukulan kecil di titik keseimbangan kedua kutub, orbit bumi bisa berubah secara signifikan. Akibatnya, siang, malam, musim, dan perubahan alam lainnya akan mengalami perubahan ekstrem. Bahkan, pukulan kecil itu bisa menyebabkan bumi bertabrakan dengan bintang atau galaksi lain dan hancur berkeping-keping. Hal ini terjadi karena kedua kutub bumi adalah pusat pengendalian pergerakan bumi. Kedua kutub ini ibarat pusat energi yang membuat bumi “menari” sesuai iramanya, serta memberi energi dan inspirasi bagi seluruh aktivitas di bumi.
Sama seperti bumi mendapatkan energi dan aktivitas dari kedua kutubnya, tubuh manusia juga memiliki dua kutub. Kutub utara adalah Sahasrar Kamal yang terletak di Brahmarandhra (pusat otak). Kutub selatan adalah Mooladhara Chakra atau pusat energi Kundalini yang terletak di dasar Sushumna (dekat organ reproduksi). Dalam mitologi Hindu, Dewa Wisnu digambarkan tidur di atas Shesha (ular berkepala seribu) di Ksheersagar (samudra susu). Samudra ini sebenarnya menggambarkan lautan cinta berwarna putih yang berada di otak kita. Sahasrar Kamal adalah inti energi yang berbeda dari bagian tubuh lainnya karena berbentuk seperti roda bergerigi, di mana geriginya diibaratkan sebagai kelopak bunga teratai. Titik energi utama berada di kutub atom ini.
Kutub utara atau Sahasrar Kamal (teratai seribu kelopak di otak) adalah pusat pencapaian segala pengetahuan, baik yang bersifat indrawi maupun di luar jangkauan indera. Di sinilah semua latihan spiritual seperti meditasi, samadhi, refleksi diri, dan yoga berlangsung. Sahasrar Chakra juga menjadi pusat dari kekuatan tekad, kekuatan jiwa, dan berbagai kesaktian spiritual (Siddhi).
Di tengah kepala terdapat Sahasrar Chakra, yang merupakan titik pertemuan semua energi spiritual. Di dalamnya terdapat energi ilahi atau Shiva. Kundalini, yang berasal dari kutub selatan, naik untuk menyatu dengan Shiva di kutub utara. Dari titik inilah semua aktivitas tubuh dikendalikan, mirip seperti seorang dalang yang menggerakkan wayang hanya dengan jari-jarinya dari balik layar. Oleh karena itu, tempat ini juga disebut sebagai wilayah jiwa. Semua energi yang menggerakkan alam semesta bersumber dari sekitar Sahasrar.
Kitab suci mengatakan bahwa Kundalini adalah sumber utama dari semua energi dan kesaktian. Orang yang berhasil membangkitkan Kundalini akan memiliki kekuatan luar biasa di dunia ini. Pengetahuan tentang Kundalini telah ditemukan sejak zaman kuno di India. Kekuatan Kundalini tidak memiliki batasan.
Namun, membangkitkan Kundalini bukanlah tujuan akhir kehidupan. Tujuan sejati setiap makhluk hidup adalah mencapai pembebasan (Moksha), yaitu menyatukan ego individu dengan jiwa kosmik atau Tuhan. Yoga dan berbagai praktik spiritual bertujuan untuk mencapai penyatuan ini. Hal yang sama berlaku untuk Kundalini. Seperti yang disebutkan dalam kitab Hathayoga Pradeepika:
“Seorang Yogi menemukan jalan Sushumna melalui latihan Kundalini, layaknya seseorang yang berusaha membuka kunci dengan anak kuncinya. Ketika berhasil, ia memasuki Brahmaloka untuk mencapai Moksha.”
Hanya ketika seseorang mencapai Sahasrar Chakra, ia bisa merasakan keabadian, melihat alam semesta secara keseluruhan, mengendalikan kekuatan kosmik, dan mencapai samadhi (trance). Brahmaloka yang disebut dalam kitab suci sebenarnya adalah Sahasrar Chakra itu sendiri. Namun, mencapai titik ini bukanlah hal yang mudah. Sebagian besar pencari spiritual terjebak di chakra yang lebih rendah dan terpikat oleh kenikmatan yang mereka rasakan di sana. Oleh karena itu, Siddhi (kekuatan supranatural) yang diperoleh saat membangkitkan Kundalini di tahap awal sering kali menjadi hambatan. Seperti halnya seseorang yang menganggap harta, kedudukan, dan pasangan hidup sebagai tujuan akhir, banyak orang yang membangkitkan Kundalini berhenti di tengah jalan karena sudah puas dengan kemampuan seperti mendengar suara dari kejauhan, melihat sesuatu yang jauh, membaca pikiran orang lain, dan meramal masa depan. Akibatnya, mereka melupakan tujuan utama, yaitu mencapai Sahasrar dan bersatu dengannya.
Bahkan ketika seseorang telah mencapai Sahasrar Chakra, ia tidak bisa tinggal di sana terlalu lama. Berapa lama seseorang bisa bertahan di Sahasrar Chakra tergantung pada jenis latihan spiritual yang ia lakukan dan seberapa besar energi batin yang ia miliki. Banyak pencari spiritual yang hanya bisa berada di Sahasrar Chakra untuk waktu tertentu sebelum kembali ke chakra yang lebih rendah dan menikmati kebahagiaan yang lebih dangkal. Namun, mereka yang benar-benar menguatkan Sahasrar Chakra akan menyatu dengan Tuhan dan mengalami kebahagiaan tanpa batas selamanya.
Sahasrar Chakra terletak sekitar 2 inci di dalam telinga dan 3 inci di dalam alis. Bentuknya seperti bola cahaya yang berada di rongga otak pada bagian yang disebut Mahavivar. Dalam proses membangkitkan Kundalini, rongga Mahavivar ini harus diperluas agar seseorang bisa memasuki keadaan ilahi. Oleh karena itu, tempat ini juga disebut sebagai “pintu ke-10” atau Brahmarandhra. Dalam kitab Dhyanbindu Upanishad disebutkan:
“Seorang Yogi adalah orang yang mengetahui cahaya seperti permata yang berada di dalam otak. Permata itu bersinar seperti tujuh jenis emas dan bercahaya seperti aliran listrik. Letaknya berada di bawah Meru dan empat jari di atas daerah api. Cahaya itu berlindung di Svadhishthan Chakra dan muncul dalam bentuk suara halus.”
Kitab suci juga menggambarkan kekuatan yang dimiliki oleh seseorang yang mencapai Sahasrar Chakra:
“Orang ini mengetahui segala pengetahuan, ia menjadi maha tahu (mengetahui masa lalu, sekarang, dan masa depan), serta dapat melakukan apa pun yang ia kehendaki. Ia bisa melakukan berbagai tindakan tanpa terkena akibat buruk atau dosa. Tidak ada seorang pun yang bisa mengalahkannya.”
Dalam satu sisi, Brahmarandhra adalah kantor pusat bagi seorang makhluk hidup. Tempat ini seperti laboratorium yang memungkinkan kita memahami segala sesuatu di dunia nyata maupun yang berada di luar jangkauan pikiran manusia. Dalam filsafat India, Brahmarandhra memiliki berbagai cahaya halus yang terdiri dari 17 prinsip, yang tidak dapat dilihat dengan mata biasa. Semua saraf dan jalur energi berasal dari sini dan menyebar ke seluruh tubuh.
Tuhan yang bersemayam dalam teratai putih di Brahmarandhra mengirim dan menerima perintah ke seluruh tubuh melalui saraf. Ia bisa menggerakkan bagian tubuh mana pun tanpa menggunakan alat teknologi apa pun. Cahaya di Brahmarandhra memungkinkan manusia mencium, mendengar, melihat, mengecap, dan berbicara.
Seorang Yogi yang telah mencapai tingkat ini tidak lagi terbatas pada keluarganya sendiri, tetapi merangkul seluruh dunia dalam pelukan jiwanya. Ia bahkan memperhatikan keseimbangan pergerakan planet dan galaksi. Secara tidak sadar, seorang spiritualis sejati yang telah mencapai tingkat ketuhanan hanya akan bekerja demi kebaikan seluruh alam semesta.
Di dalam tubuh kita, ada dua lapisan yang disebut dengan Intellectual Sheath (Lapisan Intelektual) dan Mental Sheath (Lapisan Mental) yang berhubungan dengan kecerdasan dan pikiran. Kedua lapisan ini bisa menangkap informasi tentang sesuatu yang jauh atau yang tidak bisa ditangkap oleh panca indera. Saat seseorang meningkatkan kesadarannya dari tingkat pikiran ke tingkat intelektual, ia bisa memperoleh kebijaksanaan ilahi. Kebijaksanaan ini berasal dari Ajna Chakra yang menyerap energi dari berbagai sinar kosmik untuk mendapatkan pemahaman yang lebih luas.
Kalau kita ibaratkan, seperti halnya satelit bisa diarahkan ke kanan atau ke kiri dengan gelombang listrik, atau televisi bisa menampilkan gambar dari tempat yang jauh, manusia juga bisa menangkap gambaran dari tempat lain atau bahkan mempengaruhi gerakan kosmik dengan kekuatan pikirannya (Sankalpa). Dalam kitab Mundak Upanishad (Bab 2) dan Chandogya Upanishad (Bab 9), telah dijelaskan tentang kesadaran diri ini.
Seorang suci yang telah mencapai pencerahan dapat merasakan Tuhan sebagai cahaya putih murni yang berada dalam Golden Sheath (Lapisan Emas), tanpa ada pembagian atau batasan.
Ada banyak praktik spiritual yang terkait dengan Sahasrara Chakra, seperti Pratyahara (menarik panca indera dari objek luar), Dharana (memusatkan pikiran), Dhyana (meditasi), dan Samadhi (kesadaran tertinggi). Jika dilakukan dengan benar, praktik-praktik ini bisa membawa manfaat besar, baik secara spiritual maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Saat ini, bahkan para ilmuwan modern mengakui bahwa ada pusat energi luar biasa di dalam otak. Menurut penelitian Dr. Smithy, kecerdasan murni dikendalikan oleh beberapa bagian otak yang bekerja sama. Gabungan dari memori, analisis, sintesis, dan selektivitas membentuk tingkat kesadaran mental kita. Meski lokasi pastinya belum diketahui, banyak yang meyakini bahwa area ini berada di bagian cerebellum (otak kecil). Para yogi sejak zaman dahulu telah menemukan pusat ini dan menyebutnya Sahasrara.
Jika kita meneliti otak lebih dalam, ada banyak lapisan yang tidak hanya membantu kita berpikir tetapi juga membentuk kepribadian kita. Salah satu area paling penting adalah lobus frontal, yang mengendalikan kepribadian, imajinasi, ambisi, perilaku sosial, dan pengalaman manusia. Bagian ini tidak bisa dipengaruhi oleh obat atau operasi, tetapi bisa diaktifkan melalui praktik spiritual seperti meditasi dan konsentrasi, yang merupakan bagian dari Kundalini (energi spiritual dalam tubuh manusia).
Dalam paragraf sebelumnya, kita baru membahas satu bagian otak, padahal otak memiliki kekuatan misterius yang tak terbatas. Penelitian modern tentang otak sejalan dengan apa yang telah ditemukan oleh para yogi India kuno.
Secara umum, otak bisa dibagi menjadi 5 bagian utama:
1. Cerebrum (Otak Besar)
2. Cerebellum (Otak Kecil)
3. Midbrain (Otak Tengah)
4. Pons
5. Medulla Oblongata
Tiga bagian terakhir (midbrain, pons, dan medulla oblongata) disebut sebagai brain stem (batang otak).
Menurut ilmu spiritual, otak kita diibaratkan sebagai surga tempat tinggal 0,33 miliar dewa, dan 5 di antaranya adalah yang paling utama. Kelima bagian otak yang disebutkan di atas dikaitkan dengan kelima dewa tersebut. Dengan bantuan mereka, energi spiritual dalam tubuh bisa dihasilkan dan dikendalikan. Dalam ajaran spiritual Hindu, praktik Gayatri Mantra bisa membantu menyelaraskan kelima energi ini sehingga seseorang bisa merasakan kedamaian seperti di surga.
Pembahasan kita sejauh ini hanya membahas klasifikasi dasar otak. Sejak zaman kuno, banyak ilmuwan dan yogi telah menguraikan konsep ini dengan berbagai cara. Bahkan hingga hari ini, konsep tentang Sahasrara Chakra dan otak terus dipelajari dan dikembangkan.
Sahasrara Chakra juga dikenal sebagai pot of nectar (panci nektar). Diyakini bahwa cairan suci yang disebut Som juice mengalir dari chakra ini, dan para dewa meminumnya untuk mencapai keabadian.
Dalam ilmu anatomi modern, otak dipenuhi dengan cerebrospinal fluid (cairan otak dan sumsum tulang belakang). Cairan ini berfungsi untuk menutrisi dan melindungi berbagai bagian otak. Cairan ini menetes dari selaput otak dan diserap oleh berbagai pusat otak serta Sushumna Nadi (saluran energi utama dalam tubuh).
Panci nektar ini memiliki 16 lapisan pelindung, yang dalam beberapa ajaran spiritual disebut sebagai 16 kelopak bunga teratai Sahasrara. Ini sebenarnya merujuk pada 16 pusat penting dalam otak. Dalam kitab Shiva Samhita, disebutkan bahwa Sahasrara memiliki kelopak-kelopak cahaya yang bersinar seperti bulan.
Bagian-bagian otak yang berjumlah 16 ini meliputi:
1. Cerebrum
2. Cerebellum
3. Medulla Oblongata
4. Pons
5. Midbrain
6. Corpus Callosum
7. Corpus Striatum
8. Pituitary Gland (Kelenjar Pituitari)
9. Pineal Gland (Kelenjar Pineal)
10. Thalamus
11. Hypothalamus
12. Subthalamus
13. Metathalamus
14. Epithalamus
15. Choroid Plexuses
16. Ventricles
Semua bagian ini memiliki pusat ESP (Extra Sensory Potential) yang mengendalikan tubuh. Dengan mengaktifkan panci nektar dari Sahasrara, kita bisa meningkatkan fungsi otak dan mendapatkan manfaat luar biasa. Kitab-kitab kuno dengan jelas menyebutkan bahwa aktivasi Sahasrara Chakra bisa membawa manusia ke tingkat kesadaran yang lebih tinggi.
Berikut terjemahan ke bahasa Indonesia sehari-hari:
—
Ketika Sahasrar Kamal (teratai seribu kelopak) aktif, kesadaran seorang yogi menjadi seimbang dan menyatu dengan jiwanya. Ia terbebas dari keterikatan dunia material, memiliki potensi luar biasa, bisa bergerak bebas ke mana saja, dan perkataannya menjadi lembut dan menenangkan.
– SHATCHAKRA NIRUPANA
Seseorang harus bermeditasi pada lautan susu (Ksheersagar) di pusat dahinya dan pada cahaya seperti bulan di Sahasrar Kamal.
– SHIV SAMHITA
Seorang yogi yang terus-menerus “meminum” nektar yang keluar dari Sahasrar Kamal bisa mengalahkan kematian. Artinya, kematian bukan lagi sesuatu yang menakutkan baginya karena ia telah melampaui batas kehidupan dan kematian. Di Sahasrar-lah Kundalini menyatu. Saat itu, keempat jenis penciptaan melebur ke dalam Tuhan, dan segalanya menjadi bersifat ilahi.
– SHIV SAMHITA
Semoga nektar dari Sahasrar Kamal yang telah menyucikan mantra-mantra suci dalam Rigveda, Samaveda, Yajurveda, dan Brahmana juga menyucikan diriku.
– YAJURVED
Apa sebenarnya Sahasrar itu?
Menurut para ahli anatomi, aliran listrik yang mengendalikan gerakan tubuh berasal dari pusat otak. Ini bukan sesuatu yang dibuat manusia, tetapi merupakan berkah dari Tuhan. Organ seperti hati, paru-paru, dan lambung bekerja berkat energi yang berasal dari pusat ilahi ini.
Darah memang memberi nutrisi pada organ tubuh, paru-paru membantu bernapas, dan lambung membantu pencernaan. Tapi pertanyaannya, dari mana energi yang membuat organ-organ ini bekerja? Tidak benar jika dikatakan bahwa pernapasan dan pencernaanlah yang membuat kita hidup, karena jika itu benar, seseorang hanya bisa mati karena kelaparan atau kehabisan napas.
Di tengah otak, ada sumber energi luar biasa yang memancarkan aliran listrik secara terus-menerus. Seperti mata air listrik, dari sinilah semburan cahaya seperti kembang api dipancarkan. Para ilmuwan berpendapat bahwa pancaran energi ini adalah dasar dari aktivitas berbagai pusat di otak. Prinsip ini telah lama dijelaskan dalam kitab-kitab Yoga India dengan caranya sendiri.
Di pusat otak, ada cahaya seperti permata yang memancarkan aliran listrik menyerupai emas cair. Seorang yogi sejati adalah dia yang memahami rahasia ini.
– DHYANBINDU UPANISHAD
Cahaya Tuhan tinggal di Brahmarandhra (ubun-ubun) dalam bentuk api yang menyucikan praktik spiritual kita. Inilah api Yoga yang sesungguhnya.
– MATSYA PURANA
Dalam ilmu anatomi, pusat energi di otak ini disebut Sahasrar Chakra. Kata “Sahasrar” berarti “seribu”, tetapi dalam konteks ini, maknanya adalah “tak terhingga”. Tuhan dikatakan memiliki seribu kepala, seribu kaki, dan sebagainya, bukan dalam arti harfiah, tetapi sebagai simbol dari sesuatu yang tak terbatas.
Sains modern juga mengakui bahwa aliran listrik di otak mengalir dalam jumlah yang tak terhingga melalui saraf-saraf khusus ke berbagai arah. Para ilmuwan telah mengklasifikasikan saraf-saraf ini dalam berbagai kategori, seperti Ascending Reticular Activating System, Descending Reticular Activating System, Specific Thalamic Projection, Defused Thalamic Projection, dan Brain Stem Reticular Formation.
Dalam Yoga, efek gabungan dari sistem-sistem ini digambarkan sebagai aliran listrik yang tak terhitung jumlahnya di otak.
Sahasrar Kamal (teratai seribu kelopak) sering disamakan dengan Dewa Shesha (ular berkepala seribu). Gambaran Dewa Wisnu yang tidur di atas ular Shesha di tengah lautan susu (Ksheersagar) adalah simbol dari keadaan Sahasrar. Ksheersagar melambangkan sumsum otak, sementara ular berkepala seribu mewakili “gigi” dari poros Sahasrar Chakra, mirip dengan roda gerobak yang memiliki poros.
Sahasrar juga disamakan dengan matahari yang memiliki seribu sinar. Matahari adalah sumber cahaya dan energi bagi tata surya, sama seperti Sahasrar adalah sumber energi bagi otak manusia.
_“Wahai Deveshi! Di dalam kelopak besar Sahasrar, jiwa bersemayam layaknya raksa (merkuri). Meskipun ia bersinar seperti miliaran matahari, namun saat mengalami emosi, ia menjadi seperti miliaran bulan yang bersinar lembut. Substansi ilahi ini luar biasa dan dipenuhi oleh kekuatan Kundalini.”_
– SKAND PURANA
Matahari ini bukan hanya sekadar benda fisik, tetapi juga prinsip ilahi.
– YAJURVEDA (23/48)
_”Nektarmu ada dalam diri matahari, yang tidak diketahui oleh matahari, yang tubuhnya adalah matahari, dan yang mengendalikan matahari dari dalam.”_
– BRIHADARANYAK UPANISHAD
Seperti halnya matahari memberi energi kepada tata surya, otak juga mendapatkan kemampuannya dari Sahasrar Kamal. Otak kita dapat dibandingkan dengan motor listrik, sementara organ tubuh adalah mesin-mesin kecil yang berfungsi karena energi dari otak.
Tanpa aliran listrik dari Sahasrar, seseorang tidak bisa hidup. Bahkan jika jantung berhenti, kita masih bisa mencoba menyalakannya kembali dengan alat medis. Tetapi jika energi dari Sahasrar berhenti mengalir, maka itulah kematian sejati.
Dalam ilmu Yoga, kelahiran dan kematian bukan hanya soal fisik, tetapi juga ditentukan oleh aktivitas Sahasrar Chakra.
Sahasrar dan Nasib Manusia
Sahasrar bukan hanya sumber kehidupan, tetapi juga menentukan karakter dan perjalanan hidup seseorang. Seperti air hujan yang mengalir ke sungai tertentu karena kemiringan tanah, sedikit perubahan pada Sahasrar dapat mengubah nasib seseorang secara drastis.
Ilmuwan modern sangat berhati-hati dalam mengubah keseimbangan energi bumi karena dampaknya bisa besar. Namun, dalam Yoga, manipulasi Sahasrar tidak berbahaya, karena ini adalah pusat kesadaran spiritual yang bersifat ilahi.
Brahmarandhra: Pintu Menuju Keilahian
Sahasrar Chakra berhubungan dengan Brahmarandhra, yang disebut sebagai “pintu ke-10”. Sembilan pintu lainnya adalah dua lubang hidung, dua telinga, dua mata, satu mulut, dan dua lubang pembuangan.
Yogi agung meninggalkan tubuhnya melalui pintu ke-10 ini. Itulah mengapa dalam ritual Hindu, kepala seseorang diketuk setelah meninggal (Kapal Kriya) untuk memastikan bahwa energi vitalnya telah keluar melalui Brahmarandhra agar jiwanya bisa mencapai tingkat kesadaran yang lebih tinggi.
Pada bayi yang baru lahir, ada celah kecil di bagian tengah kepala (ubun-ubun). Seiring pertumbuhan, celah ini tertutup oleh tulang. Dalam kitab-kitab Yoga, disebutkan bahwa kesadaran ilahi memasuki tubuh manusia melalui celah ini.
Secara anatomi, di balik tengkorak bagian depan terdapat korteks serebral, yang memiliki pola seperti ladang yang baru dibajak. Ini membagi otak ke dalam beberapa bagian yang disebut “sulci”.
Di persimpangan antara kedua belahan otak, terdapat titik yang dalam Yoga disebut Brahmarandhra. Di dekatnya terdapat kelenjar pineal, yang sangat misterius dan sering dikaitkan dengan intuisi dan kesadaran spiritual.
Brahmarandhra adalah pintu bagi jiwa manusia untuk berhubungan dengan Tuhan. Yogi yang mencapai tingkat kesadaran tertinggi meninggalkan tubuhnya melalui pintu ini dan menyatu dengan Tuhan.
Selama masih hidup, Sahasrar Chakra berfungsi sebagai pusat pertukaran pengalaman dan kekuatan ilahi dalam diri seorang yogi. Oleh karena itu, dalam latihan Yoga, Brahmarandhra dan Sahasrar Chakra selalu dipengaruhi dan digunakan bersama-sama.