Meditasi

Teknik Meditasi Persepsi

Teknik Meditasi Persepsi – Satu Jawaban… untuk Semua Pertanyaan – Ini Juga Akan Berlalu…

Teknik meditasi ini cukup berbeda dari teknik meditasi pada umumnya. Ini sebenarnya adalah latihan perenungan yang melibatkan pemikiran tentang kehidupan. Walaupun semua orang bisa mencobanya, teknik ini lebih cocok untuk orang yang sudah cukup dewasa (18 tahun ke atas). Alasannya, hanya mereka yang sudah menjalani hidup dalam waktu yang cukup lama yang bisa merenungkan masa lalu mereka dengan lebih dalam. Orang yang masih sangat muda mungkin kurang bisa melihat hidup dari sudut pandang yang diperlukan dalam meditasi ini, meskipun bukan berarti tidak mungkin.

Namun, teknik meditasi ini sangat berguna untuk memahami diri kita yang sebenarnya.

Caranya:

Pertama, bacalah kisah inspiratif ini:

Suatu ketika, seorang raja mengumpulkan semua penasihat bijaksananya dan bertanya:

“Apakah ada mantra atau nasihat yang bisa digunakan dalam setiap situasi, setiap keadaan, di mana pun dan kapan pun? Sesuatu yang bisa membantuku ketika kalian tidak ada untuk memberiku saran? Apakah ada kata-kata bijak seperti itu?”

Para penasihat raja pun kebingungan. Satu jawaban untuk semua pertanyaan? Sesuatu yang berlaku dalam semua keadaan? Dalam kebahagiaan maupun kesedihan, dalam kekalahan maupun kemenangan? Mereka berpikir keras. Setelah berdiskusi cukup lama, seorang penasihat tua memberikan sebuah kalimat yang disetujui oleh semuanya.

Mereka menuliskannya di atas kertas dan menyerahkannya kepada raja dengan satu syarat: raja tidak boleh membacanya karena penasaran. Ia hanya boleh membacanya saat dalam keadaan sangat terdesak dan tidak ada jalan keluar. Raja pun menyimpan kertas itu di dalam cincin berlian miliknya.

Beberapa hari kemudian, kerajaan raja diserang oleh musuh. Ini adalah serangan mendadak dari banyak kerajaan yang bersekutu untuk menggulingkan kekuasaannya. Raja dan pasukannya berperang dengan gagah berani, tetapi mereka kalah. Raja terpaksa melarikan diri dengan kudanya, dikejar oleh pasukan musuh. Kudanya membawa raja ke dalam hutan yang dalam.

Tiba-tiba, raja menemukan dirinya berada di ujung jalan buntu. Di depannya ada jurang yang dalam, ribuan meter ke bawah. Jika ia melompat, ia pasti akan mati. Namun, ia juga tidak bisa kembali karena jalan setapak itu sempit. Dari kejauhan, suara pasukan musuh semakin mendekat. Raja mulai panik. Ia merasa tidak ada jalan keluar.

Saat itulah, sinar matahari memantulkan cahaya pada cincin berlian di jarinya. Ia pun teringat pada pesan rahasia yang tersembunyi di dalamnya. Dengan cepat, ia membuka cincin itu dan membaca tulisan di dalamnya. Kalimatnya pendek, tetapi sangat bermakna:

“Ini juga akan berlalu.”

Raja membacanya sekali lagi. Lalu sekali lagi. Tiba-tiba, sesuatu tersadar dalam pikirannya: Ya! Ini juga akan berlalu.

Beberapa hari lalu, aku adalah raja yang paling berkuasa. Aku menikmati semua kemewahan dan kejayaan. Tapi hari ini, semua itu hilang. Aku dalam pelarian, nyaris mati. Jika kemewahan dan kejayaanku bisa hilang, maka kesulitan dan bahaya ini pun pasti akan berlalu.

Tiba-tiba, ketenangan menyelimuti hatinya. Ia berdiri di sana, tidak lagi panik. Ia baru menyadari betapa indahnya tempat itu—sebuah bagian dari kerajaannya yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Beberapa menit berlalu, dan raja menyadari bahwa suara pasukan musuh mulai menjauh. Rupanya, mereka telah mengambil jalan lain.

Setelah lolos dari bahaya, raja mengumpulkan pasukannya kembali, berperang dengan lebih cermat, dan akhirnya berhasil merebut kembali kerajaannya. Saat ia kembali ke istana dengan kemenangan, seluruh rakyat menyambutnya dengan sorak-sorai. Semua orang bersukacita.

Bunga-bunga dilemparkan dari jendela, musik dimainkan, dan semua orang memuji keberaniannya. Raja pun larut dalam euforia kemenangan. Untuk sesaat, ia berpikir, Aku memang raja yang hebat. Tidak ada yang bisa mengalahkanku!

Tapi kemudian, berlian di cincinnya kembali berkilau tertimpa sinar matahari. Ia ingat pesan yang tertulis di dalamnya. Dengan tenang, ia membuka cincin itu dan membaca lagi:

“Ini juga akan berlalu.”

Raja langsung terdiam. Wajahnya berubah, dari penuh kebanggaan menjadi penuh kerendahan hati.

Jika segalanya akan berlalu, maka kemenangan ini bukan miliknya. Kekalahan bukan miliknya. Ia hanyalah seorang pengamat. Segalanya datang dan pergi.

Kita semua hanyalah saksi atas segala sesuatu dalam hidup. Hidup datang dan pergi. Kebahagiaan datang dan pergi. Kesedihan datang dan pergi.

Sekarang, renungkan hidupmu sendiri.

“Ini juga akan berlalu.”

Pikirkan momen-momen bahagia dan kemenangan dalam hidupmu.
Pikirkan juga saat-saat sulit dan penuh kesedihan.
Apakah semua itu abadi? Tidak. Semuanya datang dan pergi. Hidup terus berjalan.

Dulu, kita punya teman. Sekarang mereka telah pergi.
Saat ini kita punya teman. Suatu hari nanti, mereka juga akan pergi.
Di masa depan, kita akan mendapatkan teman baru. Mereka pun akan pergi pada waktunya.

Dulu, kita punya musuh. Mereka telah hilang.
Saat ini mungkin kita punya musuh. Mereka juga akan pergi.
Di masa depan, kita mungkin punya musuh baru, dan mereka pun akan berlalu.

Tidak ada yang benar-benar tetap di dunia ini. Segala sesuatu berubah, kecuali satu hal: hukum perubahan itu sendiri.

Renungkan ini dari perspektifmu sendiri. Lihatlah bagaimana hidup terus berubah. Kamu telah bertahan melewati semua kesulitan, kekalahan, dan kesedihan. Semuanya telah berlalu. Jika saat ini kamu menghadapi masalah, percayalah—itu juga akan berlalu. Karena tidak ada yang abadi. Kebahagiaan dan kesedihan hanyalah dua sisi dari koin yang sama. Keduanya akan berlalu.

Jadi, siapa dirimu yang sebenarnya? Wajah yang kamu lihat di cermin bukanlah dirimu yang sejati. Ia akan berubah seiring waktu. Tapi ada sesuatu dalam dirimu yang tidak akan berubah. Apakah itu? Itu adalah dirimu yang sejati.

Kamu hanyalah saksi dari segala perubahan. Rasakan, pahami.

Setiap hari, luangkan waktu 10-15 menit untuk duduk dalam keheningan.
Renungkan kalimat ini: “Ini juga akan berlalu.”

Perenungan tentang hidupmu sendiri akan membuatmu memahami makna sejati dari kalimat ini. Segala sesuatu berlalu, tetapi identitas sejati kita tetap ada. Itulah diri kita yang sejati.

Mengetahui diri sejati itulah meditasi yang sesungguhnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *